MAKALAH

INOVASI  PEMBELAJARAN MENGAPRESIASI CARITA PONDOK (CARPON) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

A.    Pendahuluan

Carita pondok atau carpon merupakan bagian dari pembelajaran kesusastraan yang disajikan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 pada Mata Pelajaran Bahasa Sunda di SMP. Pembelajaran ini tercermin dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok. Penyajian carpon dalam komponen tersebut memberikan kejelasan bahwa carpon perlu dibahas dan disajikan dalam pembelajaran di SMP. Guru perlu menyajikan bahan pembelajaran sesuai dengan keluasan dan kedalaman materi serta perkembangan siswa.

Sebagai bagian dari karya sastra, carpon mengandung unsur intrinsik yang di dalamnya terdapat nilai-nilai hiburan dan nilai-nilai pendidikan. Nilai-nilai tersebut dapat diambil manfaatnya bagi perkembangan dan pembentukan watak siswa. Selain itu, nilai-nilai pendidikan dapat dijadikan sebagai bahan kajian pembelajaran yang lainnya. Hal ini karena isi yang disajikan dalam carpon merupakan fragmen kehidupan dan pengalaman hidup seperti dikemukakan Sumarjo (2004 : 41-42) berikut ini

Dalam carpon yang bermutu tinggi bukan saja kita terhibur oleh penyajian ceritanya yang memikat, tetapi  juga pengarang memberikan sesuatu yang baru bagi hidup manusia. Dalam hal ini pengarang tidak usah memberi bermacam-macam  nasihat atau kebijaksanaan hidup, tapi juga masalah kehidupan, dimenasi baru dari suatu kenyataan yang belum pernah kita lihat sebelumnya, pengalaman hidup yang belum pernah kita alami, kenyataan dari negeri yang jauh, pandangan hidup atau cara memandang kehidupan ini dengan cara yang baru.

Berdasarkan pendapat tersebut, jelas sekali bahwa carpon berusaha menyuguhkan berbagai pandangan tentang kehidupan. Hal ini sangat penting bagi pembaca apabila pola kehidupan ini merupakan pengalaman baru bagi pembaca. Pembaca dapat mengambil berbagai pandangan dari contoh-contoh yang dikemukakan dalam carpon. Pembaca dapat mempertimbangkan nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat bagi kepentingan diri sendiri maupun orang lain.

Sehubungan carpon mempunyai manfaat yang cukup besar, maka pembelajaran apresiasi carpon perlu mendapat perhatian yang serius dalam rangka meningkatkan pembelajaran sastra. Adapun salah satu cara untuk meningkatkannya yaitu dengan memilih dan mengujicobakan model pembelajaran.

Guru perlu mencoba mengadakan inovasi dalam pembelajaran carpon, agar materi sastra ini mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan perilaku siswa di sekolah. Dengan diadakannya inovasi pembelajaran carpon tersebut, maka kita akan memperoleh kejelasan tentang kemampuan siswa dalam membaca sekaligus mengapresiasi cerpen. Hasil penelitian akan dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan kemampuan siswa dalam membaca dan mengapresiasi carpon.

Ada beberapa keuntungan jika kita melakukan inovasi terhadap pebelajaran carpon. Keuntungan tersebut akan dirasakan baik bagi guru maupun bagi siswa. Keuntungan bagi guru yaitu dapat mengetahui berhasil tidaknya model inovasi yang diujicobakan dan memberikan salah satu alternatif model pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa dalam membaca dan mengapresiasi carpon.

Keuntungan bagi siswa yaitu dapat meningkatkan apresiasi carpon dengan baik. Siswa mempunyai pengalaman dalam pembacaan carpon, mengapresiasi carpon, serta akan memperoleh keterampilan membaca dengan baik. Selain itu, siswa dapat memahami, mengkaji, serta menikmati isi yang terkandung dalam carpon tersebut.

 

B. Contoh Inovasi Pembelajaran Membaca Carpon

 

Sebagai bagian dari keterampilan berbahasa Sunda, membaca memegang peranan penting bagi setiap siswa. Peranan keterampilan membaca tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Tanpa kegiatan membaca, berbagai buku dan media cetak lainnya tidak mungkin dapat dipahami maksudnya dengan baik. Untuk memperoleh kejelasan tentang membaca, berikut ini disajikan pengertian membaca.

1)  Pengertian Membaca

      Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui perantaraan kata-kata atau bahasa tulis. Inti dari pendapat tersebut yaitu membaca adalah untuk memperoleh pesan dari bahasa tulis yang disampaikan oleh penulis. Pembaca memahami kata demi kata dan kalimat demi kalimat dalam rangka memperoleh pesan yang disampaikan. Dengan demikian, kegiatan membaca dapat dilakukan apabila ada pesan yang disampaikan dalam bahasa tertulis.

Seorang ahli bahasa mengatakan bahwa membaca merupakan aktivitas seseorang yang kompleks dengan mengarahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi: menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat (Soedarso, 2004: 4). Berdasarkan pendapat tersebut, dalam membaca tidak hanya mata yang berperan sebagai alat untuk mengamati, tetapi hati dan pikiran turut menentukan keberhasilan membaca.

Berdasarkan dua pendapat di atas, membaca merupakan aktivitas seseorang yang bertujuan untuk memperoleh pesan tertulis melalui bahasa tulis yang di dalamnya tidak terlepas dari sejumlah faktor pendukung yakni aktivitas mata, ingatan, dan perasaan. Dengan demikian, berbagai informasi yang dikemas dalam media cetak dapat diketahui isinya apabila ada aktivitas mata, ingatan, dan perasaan.

 

2) Membaca Nyaring (Maca Bedas)

Salah satu jenis membaca adalah membaca nyaring (maca bedas) Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap atau memahami informasi, pikiran, dan perasaan (Tarigan, 1993:22). Berdasarkan pendapat tersebut, yang diutamakan dalam membaca nyaring adalah suara pada saat memperoleh pesan yang ada dalam bahasa tulis. Pada saat membaca nyaring, suara pembaca dapat didengar oleh orang lain sehingga berbagai hal yang disajikan dalam bahasa tulis dapat dipahami pula oleh orang yang tidak membaca. Dengan demikian, jelas sekali bahwa kegiatan membaca nyaring lebih cocok digunakan untuk memahami pesan secara bersama-sama.

Sehubungan membaca nyaring dipergunakan untuk kepetingan bersama, maka pembaca harus memperhatikan volume suara dan intonasi yang tepat. Suara yang diperdengarkan harus terdengar oleh semua orang yang terlibat dalam pemahaman pesan. Selain itu, intonasi harus benar-benar tepat sesuai dengan kaidah kebahasaan yang berlaku sehingga pesan yang didengar orang lain dapat diterima dengan sempurna. Apabila suara dan lafal tidak jelas serta  intonasi tidak baik, maka hal-hal yang diperdengarkan oleh seorang pembaca akan berlalu tanpa arti.

 

3)  Dramatisasi

Dramatisasi sebagai salah satu innováis pembelajaran carita pondok, memiliki rangkaian kegiatan sebagai berikut:

(1)   Siswa dilatih memberikan ekspresi dramatik terhadap para tokoh-tokoh serta ide-ide yang telah mereka temui dalam bacaan carita pondok.

(2)   Siswa mendramatisasikan tema-tema dari carpon dalam kaitannya dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri atau situasi-situasi kontemporer.

(3)   Siswa diberi kesempatan untuk mempergunakan ironi, parodi, humor, dan aneka bentuk drama lainnya untuk mentransfer masukan isi penggalan-penggalan sastra ke dalam berbagai model ekspresi dan  suasana hati atau sudut pandang.

 

C. Pembelajaran Carita Pondok

Istilah pembelajaran pada dasarnya sangat berhubungan dengan istilah belajar karena itu terlebih dahulu disajikan istilah belajar. Menurut Hamalik (1999:36) belajar diartikan sebagai modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through expreriencing). Pendapat lain tentang membaca dikemukakan Higlar dalam Makmun (2000:157) yakni belajar merupakan suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.

            Berdasarkan dua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang melalui kegiatan tertentu dan pengalaman. Tanpa pengalaman dan praktik, tidak akan terjadi perubahan tingkah laku. Belajar sangat berkaitan dengan perkembangan dan bukan pertumbuhan fisik. Dengan demikian, belajar merupakan perubahan perilaku individu dari tidak bisa menjadi bisa melakukan seuatu atas dasar latihan dan praktik sesuatu.

Istilah pembelajaran dikemukakan oleh Tarigan (1995:10) yaitu pengalaman belajar yang dialami siswa dalam proses menguasai tujuan pelajaran. Pendapat lain tentang pembelajaran dikemukakan Hamalik (1999:57) yaitu suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan dua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran lebih dititikberatkan kepada pengalaman belajar yang dialami siswa dalam proses menguasai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Hasil dari pembelajaran terealisasi dari perubahan yang mendasar tentang tingkah laku siswa dan bukan pertumbuhan siswa.

1)  Komponen Pembelajaran

Bentuk konkret dari perencanaan pembelajaran berdasarkan KTSP 2006 yaitu mengembangkan silabus. Silabus yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar (Depdiknas, 2005: 1). Sebagai seperangkat rencana, pada dasarnya silabus sangat berhubungan dengan berbagai komponen pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam silabus dijabarkan bagaimana mempersiapkan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar.

Penyusunan silabus tidak terlepas dari konsep dasar yang harus diperhatikan. Adapun konsep dasar penyusunan silabus yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1)      Merumuskan kompetensi dan tujuan pembelajaran serta menentukan materi pembelajaran yang memuat kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar.

2)      Menentukan metode dan teknik pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran.

3)      Menentukan alat penilaian berbasis kelas sesuai dengan misi KBK (Mulyasa, 2003:169).

Berdasarkan pendapat di atas, silabus merupakan bagian dari perangkat KBK sekaligus sebagai realiasi pelaksanaan KBK. Berbagai komponen yang disajikan dalam silabus dikembangkan dari KBK sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak menyimpang dari tuntutan KBK.

Silabus mempunyai komponen yang harus dikembangkan seperti dikemukan oleh Mulyasa (2003:167) yaitu (1) kompetensi dasar, (2) hasil belajar, (3) indikator, (4) langkah pembelajaran, (5) alokasi waktu, (6) sarana dan sumber belajar, dan (7) penilaian.

2)      Kompetensi Dasar

Kompeteni dasar merupakan pernyataan minimal tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek  mata pelajaran tertentu (Depdiknas, 2002:7).  Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa hal berkenaan dengan kompetensi dasar yang dimiliki oleh siswa yakni pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai.

3)      Hasil Belajar

Hasil belajar merpakan uraian untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus digali, dipahami, dan dikerjakan siswa”. Hasil belajar ini merefleksikan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas dan digambarkan secara jelas serta dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian tertentu. Adapun  perbedaannya dengan komptensi dasar terdapat pada batasan dan patokan kinerja siswa yang dapat diukur.

4)      Indikator

Indikator lebih spesifik dari kompetensi dasar. Apabila serangkaian indikator dalam satu komptensi  dasar sudah dicapai, berarti target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi. Indikator hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomuniaksi secvara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran.

5)      Langkah Pembelajaran

Langkah pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru secara berurutan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penentuan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi materi-materi yang memerlukan perasyarat tertentu. Dua hal penting dalam menentukan langkah pembelajaran adalah kegiatan siswa dan materi yang disampaikan. Langkah pembelajaran harus berpusat kepada siswa, dan materi harus mempunyai kriteria sahih, tingkat kepentingan, kebermanfaatan, layak dipelajari,dan menarik minat siswa.

6)      Alokasi Waktu

Alokasi waktu merupakan lamanya waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Penentuan besarnya alokasi waktu ini bergantung kepada keluasan dan kedalaman materi serta tingkat kepentingan dengan keadaan dan kebutuhan setempat.

7)      Sarana dan Sumber Belajar

Sarana belajar yang dimaksudkan dalam uraian ini lebih ditekankan kepada sarana dalam arti media atau alat peraga, sedangkan sumber belajar yang utama bagi guru adalah sarana cetak seperti buku, brosur, majalah, surat kabar, poster, lembar informasi lepas, naskah brosur, peta, foto, dan lingkungan sekitar.

8)      Penilaian

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Penilaian ini sekaligus sebagai informasi yang bermakna dalam penagambilan keputusan.

 

 

D. Carita Pondok (Carpon)

            Carpon merupakan bagian dari karya sastra fiksi. Sebagai bagian dari karya fiksi, carpon mengandung nilai-nilai hiburan dan nilai-nilai pendidikan. Di dalamnya disajikan satu peristiwa sehingga ukurannya cukup pendek. Hal inilah yang mengindikasikan bahwa frekuensi penyajian carpon banyak dilakukan dalam berbagai media cetak. Sudjiman (1990: 16-17) mengatakan bahwa carita pondok merupakan kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan kesan tunggal yang dominan: carita pondok memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada suatu ketika.

Carpon merupakan cerita dalam bentuk narasi (bukan analisa argumentatif) yang fiktif, artinya tidak benar-benar terjadi tapi bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta relatif pendek. Menurut (Sumardjo, 2004:10), cerita fiktif yang pendek berdasarkan realitas tersebut hanya mengandung satu kejadian untuk satu efek bagi pembaca.

Berdasarkan pendapat tersebut, carpon adalah cerita yang fiktif mengisahkan satu kejadian sehingga masalah yang dikembangkan walaupun tidak kompleks.  Isi yang terkandung di dalamnya disampaikan secara naratif dan bukan penjelasan atau ajakan yang disertai bukti-bukti yang kuat. Selain itu, carpon tidak mengizinkan adanya digresi seperti dikemukakan oleh Badudu (1987: 52) yakni carpon adalah cerita yang menjurus, tidak mengizinkan digresi, yakni peristiwa-peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan cerita yang dimasukkan ke dalam cerita inti.

Carita pondok,  berbeda dengan novel yang mengizinkan adanya digresi. Peristiwa-peristiwa yang tidak berhubungan langsung tidak disajikan dalam cerpen sehingga cerpen benar-benar memusatkan pada satu tokoh  dalam satu situasi pada suatu ketika. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan karya sastra rekaan yang fiktif disajikan secara naratif mengisahkan satu peristiwa sehingga ukurannya relatif pendek.

 

1) Unsur Intrinsik Carita Pondok

            Sebagai karya sastra, carpon mempunyai unsur-unsur pembentuknya yang meliputi tema, alur, penokohan,  setting, sudut pandang, gaya, dan suasana.  Secara jelas, hal-hal tersebut disajikan satu per satu berikut ini.

(a)   Tema

Tema atau jejer adalah ide sebuah cerita (Sumardjo, 2004: 22). Menurut Tarigan (1993: 125) yang dimaksud dengan tema adalah inti cerita secara keseluruhan. Tema adalah pokok pikiran yang terkandung dalam sebuah cerita. Oleh karena itu, tema sering dikatakan dasar atau makna suatu cerita.

Rangkaian peristiwa yang disajikan dalam carpon merupakan gambaran tentang tema yang dibahas. Pemaparan cerita tidak terlepas dari tema sehingga tema merupakan pangkal tolak dalam cerita. Menurut Aminuddin (2002: 91), tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.

Tema dalam sebuah carpon harus tunggal karena dibatasi oleh ruang peristiwa yang disajikan. Hal ini seperti dikemukakan Nurgiantoro (2002: 13) bahwa sebuah cerpen harus mempunyai satu tema karena cerpen ceritanya pendek. Hal ini berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku yang terbatas.

Berdasarkan hal tersebut, tema merupakan ide pokok atau inti sebuah cerita yang menjadi pangkal tolak bagi pengarang dalam memaparkan carponnya. Tema yang disajikan harus tunggal karena carita pondok dan pelakunya pun terbatas.

 

(b)   Alur

Alur adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brook dalam Tarigan 1993: 126).  Berbagai perilaku yang dilakukan oleh tokoh dalam carpon bergerak dalam alur. Jadi, alur merupakan jalan cerita dari awal sampai akhir, mulai dari perkenalan, puncak masalah, sampai pada selesaian Sudjiman (2002: 4) mengatakan bahwa alur merupakan rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks atau selesaian.

Plot atau alur carpon pada umumnya tunggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir (bukan selesai, sebab banyak cerpen, juga novel, yang tidak berisi penyelesaian yang jelas, penyelesaian diserahkan kepada interpretasi pembaca) (Nurgiantoro, 2002: 12). Karena tunggalnya plot yang disajikan, maka peristiwa dalam carpon tidak boleh lebih dari satu. Peristiwa yang digerakkan oleh tokoh hanya satu kegiatan dan satu masalah dan tidak mengizinkan adanya masalah lain yang masuk pada cerita tersebut.  

Alur yang digunakan dalam carpon pada dasarnya dapat dikatakan baik apabila mempunyai unsur suatu permulaan  (begining), pertengahan (middle), dan akhir (ending) yang dalam dunia sastra lebih dikenal sebagai eksposisi, konplikasi, dan resolusi (atau denouement) (Tarigan, 1993: 126).

Penyajian masalah dalam carpon harus dimulai dari permulaan sebagai perkenalan. Setelah itu pertengahan yang menyajikan klimaks dan antiklimaks serta selesaian sebagai akhir cerita. Dengan demikian, alur merupakan struktur gerak berbagai peristiwa dalam sebuah cerita mulai dari permulaan, pertengahan, sampai pada akhir cerita.

(c)    Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, 1993: 79). Tokoh dalam carpon memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan peristiwa sehingga tanpa tokoh, cerita tidak akan berkembang. Menurut Sumardjo (2004: 18) mutu sebuah cerita  banyak ditentukan oleh kepandaian si penulis dalam menghidupkan watak tokoh-tokohnya. Kalau karakter tokoh lemah, maka menjadi lemahlah seluruh cerita. Setiap tokoh semestinya mempunyai kepribadian sendiri.

Berdasarkan pendapat tersebut, karakter tokoh menjadi sebuah tuntutan yang harus diperhatikan dalam menulis carpon. Ia sangat ditentukan oleh karakter tokoh itu sendiri. Menarik tidaknya carpon sangat ditentukan oleh aktivitas tokoh dalam menggerakkan alur cerita.

Untuk mengenal penokohan dilakukan (1) melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakannya, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis; (2) melalui ucapan-ucapannya; (3) melalui gambaran fisik tokoh; (4) melalui pikiran-pikirannya; dan (5) melalui penerangan langsung (Sumardjo, 2004: 20-21). Berdasarkan hal-hal di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh merupakan individu rekaan dalam menggerakkan cerita. Setiap tokoh mempunyai karakter sendiri-sendiri yang pengenalannya dapat diketahui melalui tindakan, ucapan, gambaran fisik, pikiran-pikiran, dan penerangan dari pengarang.

(d)   Latar atau Setting

Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (Sudjiman, 1990: 48). Sejalan dengan pendapat tersebut Brook dalam Tarigan (1993: 36) mengatakan bahwa latar adalah latar belakang fisik, unsur waktu dan ruang, dalam suatu cerita.

Berdasarkan pendapat di atas, latar dapat dibedakan menjadi tiga bagian yakni latar tempat, waktu, dan suasana. Ketiga bagian tersebut digunakan pengarang dalam menyampaikan peristiwa dalam carpon. Tempat terjadinya peristiwa, waktu terjadi, dan keadaan suatu peristiwa merupakan latar bagi tokoh dalam menggerakkan peristiwa.

(e)    Sudut Pandangan

Sudut pandangan atau (point of view) adalah posisi fisik, tempat  persona atau pembicara melihat dan menyajikan gagasan-gagasan atau peristiwa-peristiwa; merupakan persepektif atau pemandangan fisik dalam ruang dan waktu yang dipilih  oleh seoang penulis bagi persoalannya serta mencakup kualitas-kualitas emosional dan mental sang persona yang mengawasi sikap dan nada (Tarigan, 1994: 130).

Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam menyajikan ceritanya dapat dilakukan dalam berbagai cara seperti dikemukakan oleh Aminuddin (2002: 90), yaitu (1) narator omniscien; (2) narrator observer; (3) narrator observer omniscient dan (4) narrator the third person omniscient.

Pendapat lain tentang sudut pandang dikemukakan oleh Esten (1993: 27), bahwa sudut pandang atau pusat pengisahan dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:    (1) pusat pengisahan sebagai tokoh utama; (2) pengarang sebagai tokoh samping;   (3) pengarang sebagai orang ketiga; dan (4) campur aduk, kadang-kadang masuk ke dalam cerita (kadang-kadang di luar cerita). Dapat disimpulkan bahwa sudut pandang (poit of view) merupakan cara yang dilakukan pengarang dalam menyajikan tokoh-tokoh dalam cerita, baik sudut padangan orang pertama, orang ketiga, maupun sudut pandang campuran orang pertama dan ketiga.

 

(f)    Gaya

Menurut  Sudjiman  (1993: 33) yang dimaksud dengan gaya adalah (1) cara penyampaian pikiran dan perasaan dengan kata-kata; (2) cara khas dalam penyusunan dan penyampaian pikiran serta perasaan dalam bentuk tulisan dan lisan; dan (3) ciri-ciri suatu kelompok karya sastra berdasarkan bentuk pernyataannya (ekspresinya) dan  bukan kandungan isinya. Gaya terutama ditentukan oleh diksi dan struktur kalimat.

Untuk menentukan gaya setiap pengarang secara umum dapat ditinjau dari pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam menyampaikan pikiran dan perasaan. Melalui pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan dapat dketahui gaya pengarang, apakah lincah dengan menggunakan variasi kata-kata lugas atau melankolis menggunakan gaya bahasa sebagai perwujudan tulisannya. Selain itu, dapat pula melalui pikiran dan perasaan pengarang dalam memandang objek yang diceritakannya,  seperti dikemukakan oleh Sumardjo (2004: 33) yakni gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seseorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita, itulah gaya seorang pengarang.

7) Suasana

Suasana dalam cerpen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari unsur-unsur cerpen. Suasan menjadi bagian yang dalam pesona sebuah cerpen. Selain itu,  suasana turut menentukan maksud yang ingin disampaikan. Sumardjo (2004: 40) mengemukakan bahwa suasana dalam sebuah cerita membantu menegaskan maksud. Di samping itu, suasana juga merupakan daya pesona sebuah cerita.

 

E. Pembelajaran Carpon dalam KTSP

            Pembelajaran carpon dalam KTSP merupakan  bagian dari pembelajaran apresiasi sastra. Pembelajaran tersebut tercermin dalam berbagai komponen KTSP yakni dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok. Secara jelas, bahan pembelajaran yang ada hubungannya dengan pembelajaran carpon  adalah sebagai berikut.

1) Aspek Nyarita (Berbicara)

1)      Standar Kompetensi

Mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam berbagai bentuk wacana lisan nonsastra: menanggapi pembacaan cerpen, mendongeng cerita untuk orang lain dan berbalas pantun (Depdikbud, 2005:10).

2)      Kompetensi Dasar

Menanggapi pembacaan carpon (Depdikbud, 2003: 10).

3)      Indikator

  • Mampu mengungkapkan tokoh-tokoh dengan cara penokohannya disertai data tektual.
  • Mampu menjelaskan karakteristik tokoh dan latar cerita dengan mengemukakan data yang mendukung.
  • Mampu menuliskan kembali carpon dengan mengandaikan diri sebagai tokoh cerita. (Depdikbud, 2005: 10).

4)      Materi Pokok

Teks carita pondok (Depdikbud, 2005:10).

 

2) Komponen Membaca

1)      Standar Kompetensi

Mampu membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra: Membaca dan mendiskusikan si puisi, membaca dan mengomentari buku cerita anak; membaca dan mengomentari buku kumpulan dongeng; dan membaca dan mendiskusikan isi buku cerita anak terjemahan (depdikbud, 2005: 11).

2)      Kompetensi Dasar

Membaca, menceritakan kembali, dan mengomentari buku cerita anak. (Depdikbud, 2005: 11).

3)      Indikator

  • Mampu menyebutkan hal-hal yang menarik dan tidak menarik dengan alasan yang logis.
  • Mampu menceritakan kembali cerita anak-anak dengan urutan yang tepat dan bahasa yang menarik. (Depdikbud, 2005: 11).

4)      Materi Pokok

Buku cerita anak-anak (Depdikbud, 2005: 11)

 

F. Penutup

 

Sebagai penutupo dari makalah ini penulis sampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1)      Carita pondok merupakan salah satu jenis karya sastra yang harus disampaikan dalam pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Sudna di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

2)      Inovasi pembelajaran membaca kreatif carita pondok dapat dilakukan antara lain melalui langkah-langkah berikut.(a) Membaca carita pondok dengan volume suara dan intonasi yang tepat. (b) Mempraktikkan ekspresi tulis dengan cara menuliskan kembali beberapa penggalan carpon. (c) Menghubungkan penggalan carpon dengan pengalaman pribadi di sekitar siswa. (d) Menyusun carpon yang baru dengan mengubah beberapa aspek carpon tersebut, misalnya suasana hati, gaya, dampak cerita atau aspek-aspek lainnya. (e) Kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran membaca  antara lain berkenaan dengan masalah kurangnya kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan secara cepat, menghubungkan penggalan cerita dengan pengalaman pribadi atas situasi kontemporer yang terjadi di sekitar siswa, serta sulit dalam menceritakan kembali.

 

            Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis juga ingin menyampaikan beberapa saran terhadap guru dalam pembelajaran carita pondok di sekolah, sebagai berikut.

1)      Guru hendaknya tetap senantiasa berupaya meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan cara mempelajari setiap kesulitan yang dialami siswa kemudian cara pemecahannya.

2)      Dalam pembelajaran carita pondok, guru seharusnya dapat menciptakan langkah-langkah lainnya secara bervariasi yang dapat melahirkan kreasi-kreasi baru.

 

 

Referensi

 

Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bahasa Sunda, Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik, Umar. 1999. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Harjasujana, Ahmad Slamat dan Nirmam S. Damaianti. 2003. Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara.

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE Anggota IKAPI.

Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.  

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: C.V. Sinar Baru.

Soedarso. 1999. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sudjiman, Panuti. 1991. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: UI Press.

Sumardjo, Jakob. 2001. Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen. Pustaka Pelajar.

Sumardjo, Jakob. 2004. Seluk-Beluk dan Petunjuk Menulis Cerita Pendek. Bandung: Pustaka Latifah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s